Dari banyaknya kasus KDRT, pasangan korban sering kali mengalami isolasi sosial dan ekonomi. Di mana mereka mungkin tidak memiliki dukungan sosial atau finansial yang cukup untuk meninggalkan pasangan yang sering melakukan kekerasan. Selain itu, tidak jarang mereka juga mungkin merasa terjebak dalam hubungan tersebut karena faktor-faktor seperti rasa takut, rasa bersalah, atau harapan bahwa pasangan akan berubah.
Kasus KDRT dapat memiliki dampak yang sangat serius pada kesehatan fisik dan mental korban. Korban dapat mengalami luka fisik, trauma psikologis, bahkan kehilangan nyawa. Oleh karena itu, penting untuk mengambil tindakan untuk mencegah dan menangani kasus KDRT dengan serius. Dalam menangani kasus KDRT, penting untuk memperhatikan kondisi korban dan memberikan dukungan yang memadai.
Pencegahan juga merupakan hal yang sangat penting dalam menangani kasus KDRT. Pendidikan dan sosialisasi tentang KDRT dapat membantu masyarakat untuk mengenali tanda-tanda kekerasan dan menghindari perilaku yang dapat memicu konflik.
Selain itu, upaya untuk meningkatkan kesadaran tentang hak-hak perempuan dan kekerasan gender juga dapat membantu dalam pencegahan kasus KDRT. Dalam beberapa kasus, pelaku KDRT juga dapat membutuhkan bantuan dan dukungan untuk mengatasi masalah perilaku mereka. Di mana dapat diadakannya suatu program rehabilitasi dan konseling yang dapat membantu pelaku untuk mengenali dan mengatasi masalah yang dapat memicu perilaku kekerasan.
Dalam hal ini, perselingkuhan dan KDRT adalah dua masalah serius dalam suatu hubungan perkawinan. Tentu saja keduanya berbeda, perselingkuhan merupakan tindakan yang mampu merusak kepercayaan dan memicu konflik dalam hubungan dengan menggunakan orang lain sebagai “orang ketiga”, sementara KDRT yaitu tindakan kekerasan baik fisik maupun verbal yang melibatkan anggota keluarga atau pasangan.
Halaman Berikutnya

