Hentikan Aksi Perundungan!

SAMARINDA – Perundungan. Sebuah aksi konyol dan bodoh dilakukan oleh sekelompok orang terhadap yang lemah, terus saja terjadi. Tak hanya di negeri ini, perundungan memang ada di semua bagian belahan dunia. Bagaimana sikap kita melihat fenomena ini? Apa yang harus kita lakukan jika ternyata anggota keluarga kita yang menjadi korban atau malah pelaku perundungan itu sendiri?

Kali ini, kami mencoba riset mengenai pembulian, atau disebut perundungan, bahasa asingnya: bullying. Kegiatan perundungan kemungkinan dimulai sejak ratusan ribu tahun lalu. Persisnya ketika manusia purba Neandhertal digantikan oleh manusia Homo Sapiens yang jauh lebih kuat dan berkembang.

Pada saat itu, sejarah merekam perilaku bullying yang merupakan tindakan eksploitasi terhadap yang lemah oleh yang kuat dengan tujuan tertentu. Hal tersebut juga didukung oleh konsep tentang bullying yang diperkenalkan pertama kali pada tahun 1973 oleh Olweus, bahwa bullying adalah perilaku agresif negatif terhadap individu lain yang dilakukan secara berulang kali dan tidak ada keseimbangan dalam kekuatan dan kekuasaan pelaku.

Pada dasarnya seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, perilaku ini dilakukan oleh pelaku dengan menampilkan sifat dominasi untuk menutupi kekurangan yang ada pada dirinya. Sehingga bullying akan terjadi untuk menindas seseorang yang memiliki kelebihan, namun kelebihan tersebut tidak dimiliki oleh pelaku. Bahwa tujuan dari bullying adalah sifat dominasi dan usaha yang dilakukan oleh pelaku untuk menutupi kekurangannya. Bisa juga disimpulkan, perundngan merupakan tindakan bodoh orang-orang yang berusaha terlihat superior di mata orang lain.

Ya, bisa disimpulkan begitu.

Tengok saja video perundungan yang marak di media sosial. Betapa pelaku dengan angkuhnya secara bersama-sama menindas satu orang yang lemah. Bahkan, dengan bangganya aksi mereka terekam oleh kamera ponsel untuk kemudian disebarkan. Entah mereka sadar atau tidak saat melakukan itu direkam orang lain.

Halaman Berikutnya

POPULER
Search