Politik Dinasti, Masak Sih?

Nah, jika 3 poin di atas terpenuhi, maka semua ini tak menjadi masalah. Berhari-hari, berpekan, hingga berbulan menjadi isu diskusi di mana saja. Di media masa, di platform semesta maya, di lobi hotel, bahkan di sudut warung kopi pinggir jalan masuk sedikit.

Ayolah, sudah lama negeri ini merdeka. Sudah saatnya rakyat merasakan, menikmati, dan mensyukuri pembangunan. Janganlah dipersulit lagi kehidupan mereka yang sudah sulit.

Penulis pribadi, dan mungkin kebanyakan orang di luar sana, tak begitu peduli mau siapapun menjabat. Mau artis, anak kepala dinas, kemenakan pak lurah, sepupu tiga kali injak pak RT, bahkan hantu belau sekalipun, tak masalah.

Yang diharapkan adalah bagaimana hidup di negara ini bisa nyaman dan betah. Bisa benar-benar merasakan bahwa negara ini adalah rumah, tempat pulang, tempat yang dirindukan.

Pendapatan tidak terganggu, perekonomian nyaman, aman damai sentosa, sehingga tidak ada satu orangtua pun yang menangis di dalam hati gara-gara tidak bisa memberikan anaknya seteguk susu. Tak ada lagi orangtua yang bolak balik di warung hanya sekadar membandingkan mana harga sebungkus mi instan yang termurah. Simple saja.

Sudahlah pak, ibu, kanda, adinda kami. Sudah cukup kami menyaksikan podcast lucu-lucuan stand up comedy dari para bintang tamu yang tamunya itu-itu saja.

Berhentilah melucu. Karenan lawakan kalian memang tidak lucu. (*)

(Tulisan di atas adalah pandangan pribadi penulis dan menjadi tanggung jawab penulis yang bersangkutan)

  • Mediapreneur yang masih berupaya memantaskan diri dengan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya.

POPULER
Search