Manuver Politik Jelang Pilkada Samarinda: Siapa Berani Lawan Andi Harun?

Ilustrasi peserta pilkada.

SUASANA politik di Kota Samarinda menjelang Pilkada 2024 semakin menarik dengan berbagai dinamika yang terjadi. Saat ini, Andi Harun, petahana yang populer dengan elektabilitas tinggi, berada di puncak survei.

Dengan dukungan besar dari masyarakat, Andi Harun terlihat sangat kuat dan dominan. Hal ini membuat calon-calon lain seolah enggan untuk maju melawan, menyebabkan belum ada kepastian siapa yang akan menantangnya secara serius.

Namun, ada banyak figur yang sedang mengincar posisi sebagai Wakil Walikota, menunjukkan adanya minat besar untuk berkoalisi dengan Andi Harun. Banyak tokoh dari kalangan politisi, profesional, hingga ASN yang mencoba peruntungan sebagai pendamping Andi.

Beberapa nama yang mencuat antara lain Agus Tri Sutanto, Sekretaris Dewan (Sekwan) DPRD Samarinda; Ananta Fahrurozi, Kepala Bapeda Kota Samarinda; dan Ibrohim, Kepala BPKAD Kota Samarinda. Ketiga adalah ASN di Pemkot Samarinda saat ini. Sementara Syaparudin, Ketua Tim Walikota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP), berangkat dari kalangan profesional.

Pertanyaan muncul dari banyak pihak tentang keberanian para ‘pembantu’ Walikota ini yang tiba-tiba muncul ke permukaan secara bersamaan mengincar posisi Wakil Walikota. Apakah ‘orang dekat’ Walikota ini sudah seijin Walikota atau bahkan sudah dijanjikan oleh Walikota sebagai calon yang akan dipilih mendampinginya? Nampaknya perlu penelusuran lebih jauh.

Rasa-rasanya tidak mungkin mereka bertindak tanpa sepengetahuan sang Walikota. Tidak mungkin mereka tiba-tiba mendaftar ke partai politik tanpa konsultasi. Hanya Sekwan, Agus Tri Sutanto, kabarnya sudah mendaftar ke sejumlah parpol, sementara Ananta Fahrurozi dan Ibrohim hanya mendaftar di Partai Gerindra, partainya Andi Harun.

Spekulasi pun muncul bahwa fenomena ini bisa jadi merupakan modus politik transaksional, di mana mereka berharap mendapatkan keuntungan dengan berada di kubu yang dianggap paling kuat. Sebagaimana pernah dikatakan oleh politikus Amerika Frank Underwood, “There are two kinds of pain. The sort of pain that makes you strong, or useless pain. The sort of pain that’s only suffering. I have no patience for useless things.”

Andi Harun sendiri menggunakan pendekatan komunikasi politik yang cukup menarik. Selain mengandalkan jalur partai, ia juga tidak menutup kemungkinan maju melalui jalur independen jika diperlukan. Strateginya yang fleksibel dan siap mendengarkan aspirasi masyarakat membuatnya tetap di depan dalam kompetisi ini.

Dia juga menekankan pentingnya kesabaran dan tidak tergesa-gesa dalam membuat keputusan, sebuah sikap yang diapresiasi oleh banyak pendukungnya. Nelson Mandela pernah mengatakan, “Lead from the back — and let others believe they are in front.”

Secara keseluruhan, politik di Samarinda saat ini lebih banyak berfokus pada bagaimana Andi Harun mempertahankan posisinya dengan berbagai manuver politik dan siapa yang akan menjadi wakilnya.

Situasi ini menciptakan atmosfer yang cukup dinamis dan penuh dengan taktik politik menarik, membuat publik Samarinda menantikan hasil akhir pilkada dengan penuh antusiasme.

Mari kita sruput dulu es kopinya. Biar kepala tetap dingin mencermati dinamika politik di Samarinda yang kian memanas. Selamat membaca! (*)

  • Herman Saromova

    Pelaku sekaligus penikmat diskusi politik di warung kopi.

Search