Penting juga untuk dicatat, bahwa ketika tugas-tugas diotomatisasi, jenis pekerjaan barangkali tidak berkurang, akan tetapi para pekerjanya akan melakukan tugas-tugas baru. Otomatis berdampak lebih rendah pada pekerja-pekerja yang melibatkan pengelolaan sumber daya, penerapan keahlian, dan interaksi sosial, dan memicu persaingan yang lebih ketat lagi.
Keahlian berpikir kritis, kemampuan berkomunikasi yang baik, kemampuan riset, bekerja sama, analisis masalah, pengelolaan sumber daya, penerapan keahlian, dan interaksi sosial adalah tugas-tugas yang sulit dilakukan oleh mesin, para robot dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) belum mampu menyamai kinerja manusia dalam hal ini, setidaknya sampai hari ini, hanya cakap dilakukan oleh seorang ahli komunikasi.
Menurut prediksi pada buku yang bertajuk “Bonus Demografi 2030” oleh Astrid Savitri, ada 5,1 juta pekerjaan non keterampilan yang akan hilang selama lima tahun ke depan di 15 negara terkemuka. Alasannya tidak lain karena aplikasi robot dan meningkatnya kecerdasan buatan akan menggantikan keterampilan dan kemampuan manusia sebab otomatisasi. Bahkan, ada kemungkinan besar bahwa beberapa pekerjaan non-keterampilan akan digantikan sepenuhnya oleh robot, sehingga para pekerja nonterampil yang tersisa akan dibayar dengan upah yang lebih rendah dibanding dengan para pekerja terampil.
Pada akhirnya, sebagian besar pekerja manusia akan dipekerjakan kembali, hanya saja tugas mereka berubah. Tugas-tugas repetitive tidak lagi jadi tanggungan manusia tetapi digantikan oleh robot karena dianggap lebih efisien, sedangkan manusia akan melakukan pekerjaan yang lebih terampil dan profesional.
Lalu, bagaimana kondisi teman-teman jika tidak menggenggam kemampuan dasar yang kelak akan menjadi modal utama dalam persaingan mendapat peranan? Khususnya kemampuan untuk berinteraksi atau berkomunikasi, kemampuan berpikir kritis, dan menganalisa lingkungan atau isu di sekitar, dan kompetensi dasar lainnya yang dipelajari oleh ahli komunikasi. Tentu ini akan memicu problematika, mungkin tidak berdampak sekarang, tapi kelak akan dituai.
Sehingga perlu dan penting untuk berjuang melawan pemikiran klise dan prasangka awam kaum muda terhadap ilmu komunikasi yang kelak akan mendominasi dan menjadi keterampilam primer di era industri 4.0. Serta sebagai upaya menggenjot pertumbuhan ekonomi negara sebab usia produktif yang melimpah di era itu, apalagi jika disertai keahlian dan kompetensi yang memumpuni. (*)

