Angkasa Jaya: Sering Kebakaran, Tingkatkan Kewaspadaan

Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda, Ir. Angkasa Jaya Djoerani. (foto: ist)

SAMARINDA. Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda Ir. Angkasa Jaya Djoerani mengungkapkan, bencana kebakaran adalah salah musibah yang kerap terjadi di kawasan padat Samarinda. Jumlahnya meninggi disaat bulan Ramadan. Banyak faktor disinyalir sebagai penyebabnya. Mulai dari murni kecelakaan, kelalaian, instalasi kelistrikan yang tidak tepat, usia bahan instalasi listrik, hingga kerusakan peralatan elektronik. Dua pemicu paling utama adalah, karena arus pendek listrik dan kelalaian seseorang.

Menurut Angkasa Jaya, terkhusus bulan ibadah ini, masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan. Harus memperhatikan dan mengamankan alat-alat masak yang dapat memicu kebakaran sebelum keluar rumah. Juga, sangat penting, pemerintah melakukan edukasi dan kesadaran dalam penanggulangan bencana kebakaran mendasar pada masyarakat.

Secara mendasar ia menerangkan, Samarinda adalah kota padat penduduk dengan sistem perumahan tradisional yang dibangun secara pribadi. Perumahan modern masih terbilang sedikit. padahal perumahan modern dinilai cenderung lebih aman karena memiliki aturan tersendiri mengantisipasi kebakaran.

“Standar keamanannya lengkap. Bila terjadi kebakaran, kendaraan pemadam bisa masuk untuk melakukan evakuasi. Setiap rumah juga memiliki jarak, rumah dibangun sesuai teknis, memiliki IMB, dan memiliki akses keamanan yang baik. Sehingga ketika terjadi bencana kebakaran penghuni rumah bisa dengan sigap mengamankan diri,” ucapnya.

Berbeda dengan hunian tradisional yang masih banyak menggunakan bahan mudah terbakar. Membangun dengan ukuran yang terkadang tidak sesuai dengan ukuran lahan yang dimiliki. Aspek keamanan tidak lagi diterapkan. Dinding antar rumah bersentuhan, atap rumah kadang tersambung. Ini menimbulkan akses masuk ke dalam juga minim. Akhirnya menyulitkan kendaraan pemadam dalam melakukan evakuasi.

Beruntung, banyak relawan-relawan kebakaran yang hadir di tengah masyarakat, sehingga ini adalah budaya yang baik dan bisa menjadi contoh pada kota-kota lain. Relawan juga membantu peran pemadam kebakaran dalam menempuh akses-akses yang sulit di jangkau. Sehingga penanggulangan bencana kebakaran bisa terselesaikan dengan cepat.

“Samarinda ini adalah kota yang tidak kekurangan air. Tapi, terkadang sumber untuk dukungan pemadaman api, sangat minim. Kami pernah mengusulkan pembangunan hydrant di tengah tengah rumah padat penduduk. Tetapi selalu terbentur aturan dan regulasi. Banyak rumah tidak memiliki IMB sebagai salah satu syarat,” tambahnya.

“Solusi lainnya, warga bisa membuat penampungan air sederhana. Jadi, ketika terjadi kebakaran, masyarakat bisa menggunakannya dalam membantu memadamkan api,” tutupnya. (sur/adv)

POPULER
Search