Ajari Aku Toleransi, Suhu…

SERU sekaligus sensitif. Sesensitif kertas penguji kehamilan.

Ya, jika bahas soal akidah, memang begitu. Mesti hati-hati agar tidak melukai perasaan. Kami pun hati-hati dalam pemilihan kata yang terangkai dalam kalimat di tulisan kali ini. Mudahan kami tidak terpeleset ketika menulis pendapat ini.

Ini soal sempat diperdebatkannya di media sosial, warga yang menyilakan rombongan biksu beristirahat jenak di mesjid mereka. Tampak dalam foto, ya foto, memperlihatkan para biksu tengah ritual ibadah di beranda luar mesjid.

Pro kontra ramai di jagad maya. Benang merahnya adalah toleransi kebablasan. Sebab, bagi kontra, mesjid hanya boleh digunakan untuk beribadah Muslim.

Gegara salah penafsiran foto. Ritual para biksu yang dianggap beribadah di masjid, sudah dibantah perwakilan warga. Menurut mereka, para biksu tidak sedang beribadah di situ. Melainkan, mereka mendoakan warga setempat. Sebab, sudah memperkenankan mereka beristirahat sembari disuguhkan aneka jajanan untuk sekadar mengganjal perut. Dan mendoakan itu merupakan bentuk rasa terima kasih para biksu. Terima kasih karena mereka mau membantu tanpa menanyakan: “Agamamu apa?”.

Peristiwa di dalam foto, memang multitafsir. Foto apa saja. Makanya, dalam semesta jurnalistik, foto wajib harus berbicara. Tentu untuk menghindari multitafsir itu sendiri, sekaligus tak perlu lagi menceritakan ulang di dalam teks foto.

Soal toleransi memang setipis selaput dara. Tipis, juga sensitif. Semua punya pendapat berdasar dalil-dalil. Bahkan para ulama pun, bisa berbeda menafsirkan satu ayat atau hadis. Jangankan ulama, 4 imam besar pun tak sama dalam penafsiran. Namun, mereka tetap saling menghormati perbedaan pendapat itu.

Bagi kami, jamuan yang diberikan warga kepada para biksu, bisa menjadi contoh betapa Islam sangat indah. Rahmatan fil alamin. Dan, memang itu yang mau ditunjukkan warga kepada para biksu tadi. Islam terbuka kepada semua umat. Bahkan, tak hanya umat, tapi juga kepada semua makhuk.

Mohon maaf, kami tak membesar-besarkan atau melebih-lebihkan soal Islam. Meski kebetulan, keyakinan kami adalah Islam. Tapi bukan itu poinnya.

Ok, kita bicara umum saja.

Semua agama, aliran, atau apapun sebutannya, pasti mengajarkan hal-hal baik. Tidak ada yang mengajarkan buruk kepada pengikutnya. Inilah yang oleh tiap pengikut, mesti dikedepankan. Kepada semua. Tak hanya kepada sesama aliran saja. Inilah yang jika oleh tiap pengikut digunakan, maka akan tercipta keindahan, keguyuban, kebersamaan, saling menghormati atau yang biasa disebut: toleransi.

Rasanya, tak begitu urgen untuk memberitahukan bahkan mengajarkan orang lain soal toleransi. Pada dasarnya, setiap makhluk dibekali rasa rahman dan rahim. Hanya, kita-kita saja yang membentengi. Zahir kita yang kotor inilah yang sebenarnya dinding tebal. Sehingga rahman dan rahim yang dititipkan, tidak keluar. Kita terlalu memanjakan dan menuruti hawa napsu.

Jika kita mau saja menurunkan kadar napsu, mungkin tujuan toleransi akan tercapai.

Memang, setiap menanam padi, pasti rumput ikut tumbuh juga. Mantiknya, di setiap perbuatan baik, pasti ada saja yang menilai buruk.

Tapi yang aneh lagi di negeri sebelah, ada yang nanam singkong, eh tumbuh jagung. Ups… (*)

  • Deni Sulaksono

    Mediapreneur yang masih berupaya memantaskan diri dengan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya.

Search