Problematika Baca Tulis Al Qur’an di Sekolah Dasar

PENDIDIKAN memiliki tugas untuk membuat dan menciptakan suasana belajar peserta didik menjadi semangat dan juga aktif, maka dari itu seorang guru memiliki peran penting yakni bagaimana agar bisa membantu untuk menciptakan suasana tersebut bagi peserta didik dengan menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan dan juga karekteristik peserta didik.

Jika kita memandang dunia pendidikan akan ada banyak sekali masalah yang terdapat didalamnya, dalam contoh yang kecil kita dapat melihat masalah pendidikan yang berada di dalam ruang kelas. Permasalahan yang terjadi di ruang kelas juga banyak macamnya, mulai dari masalah kurangnya sarana dan prasarana yang memadai, minimnya sumber pembelajaran yang ada, kualitas guru yang kurang hingga masalah peserta didik itu sendiri.

Tidak dapat dipungkiri juga bahwa setiap sekolah pasti memiliki masalahnya masing-masing baik dalam hal infrastruktur sekolah, kualitas guru di sekolah dan sebagainya. Seorang guru juga pasti memiliki masalah dalam pembelajarannya di kelas.

Seperti yang terdapat di salah satu SD Negeri di Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara. Dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas 2 Sekolah Dasar terdapat materi huruf hijaiyah yang mana indikator pembelajarannya yakni peserta didik harus sudah bisa untuk menulis huruf hijaiyah secara terpisah dan juga bersambung, akan tetapi di SDN tersebut masih banyak anak kelas 2 yang belum bisa menulis huruf hijaiyah.

Dari wawancara yang dilakukan kepada Ibu Nur Jannati Mahmudah, S.Pd. selaku guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang mengajar dikelas 2 tersebut, beliau menjelaskan bahwa beliau telah mengajarkan peserta didik untuk menulis huruf hijaiyah akan tetapi peserta didik masih ada yang belum bisa menulis huruf hijaiyah.

Menurut beliau ada beberapa faktor yang menyebabkan peserta didik belum bisa menulis huruf hijaiyah yakni, waktu pembelajaran yang terbatas dan juga kurangnya dukungan dari orang tua yang tidak mengajarkan juga di rumah atau tidak memasukan anaknya di Taman Pembelajaran Al Qur`an (TPA).

Menurut informasi yang didapatkan penulis, guru yang mengajar mata pelajaran PAI di sekolah tersebut mengajar menggunakan metode ceramah dan peserta didik belajar menulis huruf hijaiyah sendiri dengan diawasi oleh guru mata pelajaran PAI.

Halaman Berikutnya

  • Nanda Aisyatul Qonita

    Mahasiswi Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda (UINSI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), Prodi Pendidikan Agama Islam

POPULER
Search