Kamu Mau Daging Kurban atau Mentahnya?

Ilustrasi daging kurban atau mentahnya saja.

Nah, kan yang dikasih orang miskin. Tentu tidak berpenghasilan tetap. Atau bahkan tidak berpenghasilan. Tentu, dalam kondisi ini, si miskin tadi pasti bingung. Mau diapakan itu daging.

Lantas kami coba bermatematika. Bagaimana jika uang yang akan dibelikan hewan kurban itu, langsung dibagikan saja. Pasti, dengan memberi uang, akan jauh lebih bermanfaat. Si miskin bisa membelanjakan sesuai kebutuhan.

Kan ada yang namanya zakat dan sedekah?

Betul. Tapi sekali lagi, konteksnya adalah pemberian daging tadi yang malah akan “membebani” si miskin.

Dan jika ditilik lagi dalil berkurban adalah peristiwa tergantinya Nabi Ismail dengan domba seketika hendak disembelih oleh Nabi Ibrahim yang tak lain adalah orangtuanya sendiri. Kami coba memahami, bahwa mantik yang coba disampaikan dalam peristiwa itu adalah Tuhan menagih janji Nabi Ibrahim.

Jauh sebelum Nabi Ibrahim memiliki anak, beliau, katakanlah pernah sesumbar. “Saking cintanya aku dengan Tuhanku, apa saja yang diminta akan ku beri,” begitu kurang lebih ujar Nabi Ibrahim.

Nah, begitu doanya terkabul punya anak. Tuhan pun lantas menagih janji tersebut.

Kami memaknai lagi, yang diminta Tuhan kepada Ibrahim adalah sesuatu yang sangat ia cintai. Tuhan hendak membuktikan ketulusan cinta Nabi Ibrahim. Benarkah Nabi Ibrahim benar-benar mencintai-Nya? Apakah cintanya kepada Tuhan terbagi dengan sesuatu yang ia sayangi?

Jadi, mantik berkurban dalam konteks ini adalah soal percintaan hamba kepada Tuhannya. Soal bahwa cinta kepada Tuhan tidak boleh terhalangi oleh suatu apapun.

Kesimpulan sementara kami adalah bahwa apa-apa yang kita cintai, pasti akan diminta-Nya. Itulah makna kurban sebenarnya. Tentu, ini pemahaman kami saja. Anda-anda yang tetap mau berkurban seperti pada umumnya, ya silakan.

Tapi, jika kami diberi daging kurban, kalau bisa “mentahnya” saja. (*)

(Tulisan di atas adalah pandangan pribadi penulis dan menjadi tanggung jawab penulis yang bersangkutan)

  • Mediapreneur yang masih berupaya memantaskan diri dengan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya.

POPULER
Search