Cegahlah, Jangan Tunggu Hancur

LUPA persisnya, dialog dua arah saya dengan seorang teman. Kayaknya, 2 atau 3 tahun lalu. Teman tanya, kenapa demo yang dilakukan berbagai elemen masyarakat seolah tak lebih layaknya tontonan saja. Tak ubahnya omelan para ayam di kandangnya. Tak didengar meski lantang. Aksi yang tak digubris pemerintah. Beda saat 98 lalu.

Kurang lebih begitu urainya. Panjang lebar, sesekali ngedumel.

Saya cuma senyum-senyum saja mendengar curhatannya. Lantas dia heran kenapa tanggapan saya cuma begitu saja. Saya bilang, kalau kamu punya rumah, kemudian rumahmu bagian terasnya saja bocor, apa mesti bongkar semua bangunan?

Memang bagi sebagian orang, bocornya langsung diperbaiki. Tidak mesti nunggu pondasi bangunan ambrol dulu. Tapi kan tidak semua begitu. Biasanya, rumah itu kalau sudah hancur lebur, maka baru bisa ditindak. Apakah diperbaiki, direnovasi, atau dihancurkan sekalian kemudian dibangun ulang.

Itu pendapat yang saya sampaikan kepadanya. Dia angguk-angguk. Entah mengerti atau tidak tentang mantik yang saya sampaikan itu.

Reformasi yang pecah pada 1998 itu pun, tidak berlangsung 1 atau 2 hari. Bukan juga berbulan-bulan. Melainkan hitungan tahun.

Masih segar di ingatan, diskusi dengan seseorang yang kini punya jabatan di legislatif. Beliau menceritakan, medio 89, saat masih mahasiswa. Para mahasiswa saat itu sudah berkoordinasi melalui telepon maupun surat via kantor pos. Kalau mau cepat, pake telegram. Yang dibahas, ya tentu soal gaya manajemen pemerintah saat itu: Orde Baru. Semua tahu seperti apa gaya pemerintahannya.

Para mahasiswa membahas isu politik yang dibungkus dalam kegiatan pertemuan biasa antar mahasiswa se-Indonesia. Tujuannya, agar kegiatan mereka tak dibubarkan aparat. Maklum, intel saat itu berada di mana-mana. Tak terdeteksi. Hanya sesama intel saja yang saling tahu bahwa mereka intel.

Serapi-rapinya, serahasia-rahasianya, sesenyap-senyapnya gerakan mahasiswa menyiapkan aksi yang kemudian menjadi embrio reformasi tahun 98, tetap terendus.

Beliau menceritakan, ternyata pergerakannya dari Samarinda ke sebuah kota di Pulau Jawa untuk mengikuti pertemuan antarmahasiswa se Indonesia, sudah terendus aparat. Diradar tanpa sepengetahuannya. Baru mengikuti kegiatan pertemuan, begitu pulang dari tempat acara menuju penginapan, ia dan beberapa mahasiswa dihadang. Kemudian dipulangkan saat itu juga. Begitu sampai bandara Balikpapan, ia langsung dihubungi pihak rektorat agar untuk sementara waktu, hinip, sembunyi dulu di kos. Jangan melakukan aksi dulu. Sebab, sudah masuk radar yang sewaktu-waktu bisa masuk kandang besi.

Dari penggalan cerita itu, segala sesuatunya memang memerlukan proses. Mi instan saja tidak dimasak secara instan.

Bagaimana dengan kondisi sekarang?

Aksi saat ini, bisa disebut akumulasi keluhan terhadap kebijakan pemerintah rezim ini. Dua kutub besar politik di Tanah Air, perlahan mulai melebur. Dulu, kenapa aksi protes bisa diredam, karena kutub pro pemerintah memberi tangkisan. Sekarang tampaknya, yang dulu pro, kini berbalik arah, ikut demo. Ini memang bukan soal membela, menjunjung, atau menjatuhkan seorang tokoh yang hendak maju di Pilkada. Ini soal aturan yang mau diatur-atur.

Aksi menentang sikap DPR yang mementahkan putusan MK kali ini memang tidak sebesar kala reformasi 98. Tapi, efek kejutnya lumayan memberi dampak. Di pemberitaan media mainstream maupun di media sosial tersiar kabar partai partai besar mulai berhitung ulang. Mulai menimbang-nimbang untuk menentukan sikap. Para anggota partai tahu, aksi kali ini bisa jadi lebih besar. Sebab, mereka sebagian besar juga pelaku sejarah saat menumbangkan Orde Baru.

Blunder politik mulai terjadi. Terkini soal Raja Jawa. Kabarnya, itu menjadi blunder bahkan gol bunuh diri. Tiap partai sepertinya berencana atau bahkan sudah ada yang loncat perahu.

Sejarah memang terus berulang. Tololnya, manusia terus melakukan kesalahan sama. Kecebur di lobang yang sama. Padahal, masih banyak lobang-lobang ketololan lain yang belum dicoba.

Kembali ke teman saya. Usai angguk-angguk, dia tanya lagi: Jadi kapan rumah itu perlu direnovasi total?

Ya ngga tahu. Mentang-mentang situ kontraktor, mau main langsung bongkar aja. (*)

(Tulisan di atas adalah pandangan pribadi penulis dan menjadi tanggung jawab penulis yang bersangkutan)

  • Mediapreneur yang masih berupaya memantaskan diri dengan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya.

POPULER
Search