SANGATTA – Anggota Komisi B DPRD Kutai Timur, Yusri Yusuf, berencana menginisiasi program pelatihan dan seminar bagi para petani di wilayah Kutim. Program ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya hilirisasi hasil pertanian, yakni proses mengolah hasil panen menjadi produk dengan nilai tambah.
Yusri menilai, banyak petani di Kutim masih terbatas pada aktivitas menjual hasil pertanian dalam bentuk mentah. Padahal, menurutnya, hasil pertanian memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk yang lebih bernilai secara ekonomi, sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani sekaligus daya saing produk lokal.
“Salah satu tujuan utama dari pelatihan ini adalah memberikan pemahaman kepada petani tentang hilirisasi. Ini mencakup cara mengolah produk mentah menjadi barang jadi atau produk olahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Misalnya, tomat bisa diolah menjadi saus, singkong menjadi keripik, atau kelapa menjadi minyak kelapa,” ujar Yusri kepada wartawan di Ruang Kerjanya, Rabu (13/11/2024).
Program pelatihan ini dirancang dengan melibatkan tenaga ahli dan pakar di bidang pertanian serta industri pengolahan. Mereka akan memberikan wawasan mengenai teknologi terbaru dalam pengolahan hasil pertanian, yang diharapkan mampu membantu petani mengatasi berbagai tantangan.
Para ahli juga akan berbagi teknik-teknik modern yang dapat diterapkan untuk menangani masalah seperti gagal panen atau hasil pertanian yang sulit dipasarkan. Menurut Yusri, pelatihan ini akan membantu petani memanfaatkan hasil panen yang selama ini dianggap kurang optimal atau bahkan terbuang.
“Seringkali, petani merasa kesulitan ketika hasil panen mereka tidak laku di pasar atau menghadapi kendala gagal panen. Dalam pelatihan ini, kami ingin memperkenalkan solusi-solusi inovatif. Misalnya, bagaimana mengolah hasil panen yang tidak terjual menjadi produk olahan yang tetap memiliki nilai ekonomi, seperti makanan ringan atau bahan baku industri,” jelas Yusri.
Melalui inisiatif ini, Yusri berharap dapat membuka peluang pasar baru bagi para petani. Dengan hilirisasi, produk hasil pertanian Kutim bisa menjangkau konsumen yang lebih luas, baik di tingkat lokal maupun regional.
“Pelatihan ini diharapkan mampu mengurangi kerugian akibat produk yang tidak terjual. Selain itu, petani juga dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produk olahan mereka yang siap bersaing di pasar,” tambahnya.
Yusri menegaskan, program ini merupakan bagian dari upayanya untuk mendorong sektor pertanian Kutim agar lebih maju dan berdaya saing. Ia juga berharap pemerintah daerah turut mendukung pelaksanaan pelatihan ini, baik melalui penyediaan fasilitas, pendampingan teknis, maupun bantuan lainnya.
“Dengan sinergi antara pemerintah, petani, dan pelaku industri, kita bisa menciptakan ekosistem pertanian yang lebih kuat dan berkelanjutan. Ini penting untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di Kutim,” ujar Yusri.
Menurut Yusri, hilirisasi produk pertanian menawarkan banyak manfaat bagi petani. Salah satunya adalah peningkatan nilai tambah produk. Sebagai contoh, singkong mentah yang dijual dengan harga rendah dapat diolah menjadi produk olahan seperti tepung mocaf, yang harganya jauh lebih tinggi di pasaran.
Selain itu, hilirisasi juga dapat meningkatkan ketahanan ekonomi petani. Dalam kondisi tertentu, ketika harga hasil panen mentah anjlok, petani masih memiliki peluang untuk mendapatkan keuntungan melalui produk olahan.
“Petani harus mulai beradaptasi dengan tren pasar dan kebutuhan konsumen. Dengan pelatihan ini, kami ingin membekali petani dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan agar mereka dapat bersaing di era yang semakin kompetitif,” ucap Yusri.
Yusri menyampaikan, keberhasilan program pelatihan ini sangat bergantung pada dukungan dari berbagai pihak, terutama pemerintah daerah. Ia berharap Pemerintah Kutim dapat memberikan bantuan berupa sarana produksi, alat pengolahan, hingga pendampingan bagi petani selama proses pelatihan.
“Inisiatif ini akan lebih efektif jika didukung oleh fasilitas dan program berkelanjutan dari pemerintah. Kita perlu memastikan bahwa petani tidak hanya mendapatkan pelatihan, tetapi juga akses ke teknologi dan pasar yang lebih baik,” katanya.
Program ini sejalan dengan visi pembangunan Kutai Timur yang berbasis pada penguatan sektor pertanian. Sebagai salah satu daerah dengan potensi agraris yang besar, Kutim memiliki peluang untuk menjadi sentra produksi pangan dan produk olahan di Kalimantan Timur.
Melalui pelatihan ini, Yusri berharap petani dapat memahami bahwa sektor pertanian tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga pada proses hilirisasi yang memberikan nilai tambah. Dengan demikian, pertanian di Kutim dapat menjadi lebih berkelanjutan dan memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian daerah.
“Kami optimistis, melalui edukasi yang tepat, para petani Kutim dapat meningkatkan kapasitas mereka dan menjadikan hasil pertanian sebagai komoditas unggulan yang kompetitif,” tutup Yusri. (adv/dprd kutim)
