Seno Aji ke Kubar-Mahulu, dari Tering ke Ujoh Bilang Ditarget Tuntas 2027

SAMARINDA – Upaya membuka keterisolasian wilayah pedalaman Kalimantan Timur kembali menjadi fokus pemerintah provinsi. Pembangunan jalan darat yang menghubungkan Tering di Kabupaten Kutai Barat dengan Ujoh Bilang, ibu kota Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), kini terus dikebut dengan target penyelesaian pada 2027.

Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, turun langsung meninjau perkembangan proyek jalan sepanjang sekitar 136 kilometer tersebut pada Minggu 15 Maret 2026 kemaren. Peninjauan ini dilakukan di sela rangkaian kunjungan kerja ke wilayah hulu, sekaligus untuk memastikan progres pembangunan berjalan sesuai rencana.

Selama ini, akses menuju Mahakam Ulu masih sangat bergantung pada transportasi sungai melalui aliran Mahakam. Kondisi itu kerap membuat mobilitas masyarakat dan distribusi barang menjadi mahal serta tidak menentu, terutama saat cuaca dan kondisi alam tidak bersahabat.

Seno Aji menegaskan bahwa pembangunan jalan ini menjadi salah satu prioritas infrastruktur pemerintah provinsi karena berkaitan langsung dengan pemerataan pembangunan di wilayah perbatasan.

“Tahun 2027 nanti seluruh koridor dari Tering sampai ke Mahakam Ulu, hingga Ujoh Bilang, kita targetkan sudah dapat dilalui dengan baik oleh masyarakat,” ujar Seno Aji saat meninjau lokasi pengerjaan.

Menurutnya, proyek ini memiliki tingkat kesulitan tersendiri karena berada di kawasan pedalaman dengan karakteristik medan yang berat. Karena itu, pemerintah melakukan pemantauan langsung guna memastikan kualitas pekerjaan sekaligus mengidentifikasi kendala teknis di lapangan.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan pemerintah bahkan harus menempuh perjalanan darat hingga sekitar tujuh jam dari Kutai Barat menuju Ujoh Bilang untuk melihat langsung kondisi jalur yang tengah dibangun.

“Doakan mudah-mudahan kita semua bisa menyelesaikan pekerjaan ini dengan baik,” kata Seno Aji.

Berdasarkan data yang dipaparkan di lapangan, pembangunan jalan Tering–Ujoh Bilang sepanjang 136 kilometer dilakukan secara bertahap melalui kolaborasi pendanaan antara pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.

Seno Aji menjelaskan bahwa segmen awal sepanjang sekitar 41 kilometer dari titik nol menuju arah Mahulu sudah dalam kondisi relatif baik dan dapat dilalui kendaraan.

“Dari 0 kilometer sampai 41 kilometer sudah relatif bagus dan sudah bisa dilewati,” jelasnya.

Sementara itu, segmen sepanjang sekitar 76 kilometer berikutnya, yakni dari KM 41 hingga KM 117, saat ini dikerjakan menggunakan anggaran dari pemerintah pusat melalui APBN.

Adapun sisa jalur sekitar 13 kilometer lainnya masih menjadi fokus penyelesaian lanjutan agar seluruh koridor dapat tersambung secara utuh tanpa hambatan.

Proyek ini melibatkan koordinasi antara Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN), Dinas PUPR PERA, serta Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

Jika rampung sesuai target pada 2027, jalur darat Tering–Ujoh Bilang diyakini akan membawa perubahan signifikan bagi kehidupan masyarakat Mahakam Ulu.

Akses transportasi darat yang lebih stabil akan menurunkan biaya logistik, mempercepat distribusi barang, serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di wilayah perbatasan tersebut.

Selain itu, keberadaan jalan darat juga akan mempermudah layanan publik, termasuk akses kesehatan, pendidikan, dan mobilitas aparatur pemerintah menuju daerah pedalaman.

Dalam peninjauan tersebut terlihat jelas beratnya kondisi medan yang masih harus dilalui. Rombongan menggunakan kendaraan berpenggerak ganda dengan ban khusus untuk menembus jalur tanah serta sejumlah jembatan darurat yang masih dalam tahap pembangunan.

Bagi masyarakat Mahakam Ulu, pembangunan jalan ini bukan sekadar proyek infrastruktur. Lebih dari itu, kehadiran jalur darat yang memadai diharapkan menjadi pintu pembuka bagi percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan di kawasan perbatasan Kalimantan Timur. (nk)

POPULER
Search