Samarinda, Kota dengan Sejarah Panjang dan Keberagaman yang Terjaga

Masjid Baitul Muttaqien, Islamic Center. (foto: ist)
Masjid Baitul Muttaqien, Islamic Center. (foto: ist)

SAMARINDA – Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Samarinda, Muslimin, menegaskan pentingnya memahami sejarah sebagai bagian dari identitas masyarakat Samarinda. Menurutnya, keberadaan Kota Tepian tidak dapat dilepaskan dari peran Kesultanan Kutai Kartanegara dan masyarakat Wajo yang datang pada masa penjajahan.

“Kalau bicara sejarah, kita bagian dari Kutai Kartanegara. Pada saat masyarakat Wajo datang ke Kota Samarinda, mereka menghadap kepada Raja Kutai. Lalu diberilah tempat yang namanya Samarinda Seberang,” ungkap Muslimin, Sabtu (4/10/25).

Ia menambahkan, tradisi adat erau menjadi salah satu bukti hubungan historis tersebut. Pada perayaan erau di Tenggarong, prosesi adat kerap singgah ke Samarinda Seberang, khususnya di Kampung Baqa, yang memiliki nilai sejarah kuat.

“Saya diberikan kehormatan untuk memberikan tepung tawar kepada Pangeran Haryo dan Pangeran Rudi, anak dari Raja Pangeran Prabu Arifin, di Samarinda Seberang karena memang ada sejarahnya,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan keberadaan tokoh penting asal Wajo, Lamohang Daeng Mangkona, yang turut membantu Kerajaan Kutai melawan penjajah Belanda.

Makamnya hingga kini masih berada di Samarinda Seberang, yang juga menjadi tempat tinggal keluarga keturunan keraton. Dirinya menekankan, Kota Samarinda adalah miniatur Indonesia karena dihuni hampir semua suku bangsa. Berdasarkan data kependudukan, suku Jawa menjadi dominan, disusul Bugis, Banjar, Kutai, dan lainnya. Namun, keberagaman itu tidak pernah menjadi sumber perpecahan.

“Samarinda ini menjadi kota yang penuh dengan harmoni. Ibarat musik, walaupun berbeda alat musik tetap menghasilkan suara yang nyaman,” katanya.

Menurut Muslimin, harmoni tersebut terus terjaga berkat berbagai kegiatan budaya yang menghargai perbedaan, mulai dari Festival Adat Dayak hingga Festival Makam Budaya Nusantara.

“Kita berharap masyarakat Kota Samarinda tetap menjaga keharmonisan. Kalimantan Timur, khususnya Samarinda, ini miniatur Indonesia. Semua suku bangsa ada di sini dan hidup menjunjung tinggi keberagaman,” pungkasnya. (yud)

POPULER
Search