Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
ADA perjalanan yang tidak hanya memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga menggeser kesadaran dari satu zaman ke zaman yang lain. Perjalanan itulah yang saya rasakan ketika bersama rombongan PWNU dan PCNU se-Kalimantan Timur, mengikuti rangkaian Napak Tilas Isyarah Pendirian Nahdlatul Ulama. Kami seperti masuk lorong waktu dan terdampar di tahun 1924, tahun ketika sejarah NU masih berupa isyarah, amanah, dan kepatuhan seorang santri kepada gurunya.
Tahun 1924 adalah tahun ketika santri Mbah Cholil Bangkalan bernama Kyai As’ad Syamsul Arifin dipanggil untuk mengantarkan tongkat, dan pada akhir tahun yang sama kembali diamanahi mengantarkan tasbih kepada Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang. Isyarah inilah yang kelak menjadi pintu kelahiran NU. Tanpa tongkat dan tasbih itu, sejarah NU tidak akan pernah sama.
Saya, H.M. Ali Cholil, putra dari Kyai Cholil Yasin Kepang bin Nyai Asma binti Syaichona Muhammad Cholil bin Abdullatif—yang masih terbilang dzurriyah Mbah Cholil Bangkalan wa lā fakhr—mendapat amanah sebagai Rais Syuriyah PWNU Kalimantan Timur masa khidmah 2023–2028 melalui Konferwil NU ke-X di Ponpes Syaichona Cholil, Sepinggan, Balikpapan. Amanah ini saya pahami bukan sekadar jabatan, tetapi tanggung jawab sejarah dan sanad perjuangan.
Dua tahun lalu, lahir gagasan untuk memperingati satu abad NU versi Miladiyah yang direncanakan pada 31 Januari 2026 di IKN, Kalimantan Timur. Jawa Timur telah menjadi tempat peringatan satu abad NU versi Hijriyah—sebagai kota lahir dan kota kenangan NU. Maka saya memandang, IKN pantas menjadi ruang peringatan satu abad NU versi Miladiyah, sebagai simbol kota masa depan. Ketika PBNU memutuskan hanya memperingati versi Hijriyah dan memperkenankan PWNU memperingati versi Miladiyah tanpa dukungan, saya justru menangkap pesan batin: khidmah tidak selalu menunggu legitimasi perayaan.
Dari sinilah ikhtiar dimulai. Saya sowan ke para masyayikh di Jawa Timur: Kyai Prof. Ala di Surabaya, Kyai Idris Hamid di Pasuruan, dan Kyai Azaim Ibrahimy di Sukorejo. Dari pertemuan dengan Kyai Azaim, muncul keinginan untuk napak tilas perjalanan Kyai As’ad saat mondok di Mbah Cholil Bangkalan. Namun sejarah tidak bisa disambung tanpa menyatukan simpul-simpulnya. Maka saya bergerak menyambungkan tiga simpul dzurriyah: Bangkalan, Sukorejo, dan Tebuireng.
Perjalanan panjang komunikasi, rapat, pembatalan sepihak, hingga pemindahan tempat rapat koordinasi akhirnya membawa kami ke ndalem Rais Aam PBNU. Di sanalah disepakati bahwa Napak Tilas Tongkat dan Tasbih tetap dilaksanakan, meski waktu dan pelaksanaannya belum ditentukan. Keputusan ini kemudian dibawa ke Muskerwil I PWNU Kaltim, yang menetapkan bahwa peringatan satu abad NU versi Miladiyah di Kaltim diawali dengan Napak Tilas di Jawa Timur.
Yang paling menguras batin bukanlah perjalanan fisik, melainkan lambannya proses pembentukan kepanitiaan, tarik-ulur antar dzurriyah, dan sulitnya legalitas organisasi. Hingga akhirnya SK kepanitiaan terbit melalui Komite Dzurriyah Muassis NU, ditandatangani para dzurriyah utama. Barulah roda kegiatan bergerak.
Namun, di sinilah refleksi terdalam itu hadir. Rombongan PWNU dan PCNU se-Kalimantan Timur, yang sejak awal menjadi bil asbab tersambungnya gagasan, napak tilas, dan silaturrahim ini, justru merasa tidak hadir secara simbolik. Dalam berbagai titik ziarah dan silaturrahim—Sukorejo, Bangkalan, Surabaya, Tambak Beras, hingga Tebuireng—kami sering tidak disebut, tidak diperkenalkan, tidak difasilitasi silaturrahim, bahkan sekadar untuk didoakan sebagai musafir khidmah NU.
Kami datang bukan untuk dipuji, bukan untuk disanjung. Kami datang untuk ta’aruf, silaturrahim, dan ngalap barokah doa para dzurriyah muassis. Kami ingin rombongan PWNU dan PCNU se-Kaltim disebut agar didoakan, sebagaimana tradisi ulama memuliakan tamu yang berjalan jauh untuk khidmah. Namun berulang kali, kami justru terlewatkan.
Pada akhirnya saya sampai pada satu kesadaran batin: Kami memang tidak berada di tahun 2026. Kami terdampar di tahun 1924.
Di tahun itu, belum ada struktur NU, belum ada PWNU, belum ada PCNU, belum ada panitia, bahkan sebagian dzurriyah yang hendak kami temui belum lahir. Yang ada hanyalah santri, kepatuhan, dan amanah. Maka wajar jika kami tidak terlihat, terlupakan, dan terabaikan—karena di tahun 1924, yang penting bukan siapa yang hadir, tetapi apa yang diantarkan.
Kami hanya menjadi perantara, sebagaimana Kyai As’ad dahulu. Dan sejarah sering kali tidak menuliskan nama perantara dengan tinta besar.
Karena itu, dalam peristiwa ini tidak perlu menyalahkan siapa pun. Alamnya memang sudah berbeda. Kami berada di lorong waktu yang lain. Kami menyaksikan ulang bagaimana NU lahir: sunyi, sederhana, dan penuh pengorbanan tanpa panggung.
Dan jika harus memilih, maka terdampar di tahun 1924 adalah kehormatan, karena di sanalah NU belum menjadi organisasi besar, tetapi masih murni sebagai amanah para wali dan ulama.
Wallahu a’lam.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sebuah refleksi dari Rois Syuriyah PWNU Kaltim, K. H. M. Ali Cholil
